UX untuk bisnis 1

Desain UX untuk Bisnis Anda yang Lebih Baik

UX untuk bisnis 1

Photo by Pexels

Multidisiplin dalam desain UX sering membuat orang menganggap bahwa hal itu hanya membuat pengalaman tertentu ketika user atau customer mengunjungi sebuah situs web. Yaitu ketika user menghindari layout yang aneh dan fungsi dari bagian-bagian itu. Tujuan yang sebenarnya dari desain UX adalah menciptakan solusi yang lebih baik untuk pengguna dan memberikan nilai bisnis untuk organisasi atau perusahaan Anda.

Hal yang sangat disayangkan, banyak bisnis pada saat ini masih belum mengetahui tentang potensi yang akan didapatkan ketika menerapkan strategi desain UX yang tepat yang akan menambah nilai bisnis.

Ketika suatu bisnis tidak berjalan dengan semestinya pada platform digital, hal yang perlu dilakukan yaitu menginvestasikan lebih banyak waktu pada User Experience untuk menjadikan bisnis Anda lebih baik lagi. Eksekusi yang tepat dari desain UX dapat membantu bisnis Anda memahami bagaimana menafsirkan perusahaan, produk Anda dan apakah itu cocok atau tidak dalam kompetisi. Semakin banyak pengguna menemukan pengalaman menyenangkan ketika berkunjung ke situs web atau aplikasi Anda, mereka akan terus kembali.

Untuk mengetahui apakah UX Anda sudah tepat untuk bisnis Anda, Anda perlu mengidentifikasi model bisnis Anda terlebih dahulu.

B2B: Business-to-Business (Bisnis-ke-Bisnis)

UX untuk bisnis 2

Image by IBM

Business to business atau B2B adalah transaksi yang dilakukan secara elektronik maupun fisik dan terjadi antara entitas bisnis satu ke bisnis lainnya. Jadi, penjualan produk atau jasa yang diberikan oleh bisnis tersebut diperuntukkan untuk bisnis lain, bukan kepada customer.

Contoh perusahaan yang menerapkan B2B adalah IBM, Salesforce, Accenture, Produsen Otomotif.

B2C: Business-to-Consumer (Bisnis-ke-Konsumen)

UX untuk bisnis 3

Image by eBay

Business to customer atau B2C adalah bisnis yang melakukan pelayanan atau penjualan barang atau jasa yang Anda lakukan secara langsung dengan konsumen, bukan dengan perusahaan atau bisnis lainnya.

Contoh perusahaan yang menerapkan B2C adalah eBay, Walmart, Disney, Coca-Cola, Apple.

Menurut Rashi Desai, desain UX untuk setiap model bisnis bervariasi. Pengguna di pihak penerima memainkan peran penting dalam merancang UX yang sempurna untuk situs web atau aplikasi bisnis Anda.

Setelah selesai mengidentifikasi model desain Anda, mulailah dengan desain. Tentukan Persona, alur pengguna, model tugas, storyboard, wireframe, dan prototipe. Saat Anda mendesain untuk proyek baru Anda, pastikan untuk memvalidasi dengan tujuan desain Anda. Cara paling sederhana untuk melakukan validasi adalah dengan mengajukan pertanyaan sebelum dan sesudah desain UX yang sebenarnya.

Validasi sebelum membuat desain:

  1. Memvalidasi cerita pengguna dan Persona
  2. Apakah setiap iterasi memasukkan feedback pengguna?
  3. Apakah kita mempelajari sesuatu tentang kebutuhan pengguna?
  4. Apakah mereka akan merekomendasikan produk ke teman mereka?
  5. Apakah kita membuat produk terukur yang lebih baik?

Validasi setelah membuat desain:

  1. Solusi desain harus secara konsisten memperkuat branding dan kebijakan perusahaan
  2. Strategi konten yang konsisten dan dipikirkan matang-matang
  3. Solusi ringkas dan minimalis dalam desain
  4. Desain menurut berbagai negara

Desain UX adalah semua tentang bagaimana memahami pengguna, kebutuhan mereka, tuntutan, dan karakteristik. Setiap model bisnis memperlakukan penggunanya secara berbeda tetapi untuk gambaran yang lebih besar, desain UX untuk B2B dan B2C mengikuti pedoman tertentu. Implementasi standar-standar berikut ini pasti menguntungkan penjualan bisnis Anda.

Desain UX untuk B2B:

  1. Jangan membanjiri pengguna dengan informasi, tetap memprioritaskan konten.
  2. Tampilkan data inti dari area pre-scroll.
  3. Aktifkan psikologi warna.
  4. Pertimbangkan konten video promo.
  5. Terapkan visual yang menarik untuk menyampaikan pesan.
  6. Terapkan landing page untuk penawaran khusus.
  7. Jangan lupakan testimonial.
  8. Biarkan pengguna menghubungi pemegang tugas dari titik mana pun.

Desain UX untuk B2C:

  1. Konten harus komunikatif kepada pengguna.
  2. Konten harus mendukung keputusan pembelian jangka panjang.
  3. Integrasi, kompatibilitas, dan informasi peraturan harus jelas.
  4. Penetapan harga yang kompleks membutuhkan skenario yang realistis.
  5. Bicaralah dengan segmen pelanggan yang berbeda.
  6. Skala bisnis tidak mengasingkan audiens.

Ada beberapa poin statistik yang menarik dari PointSource tentang penerapan desain UX yang hebat untuk bisnis.

  • Perusahaan yang menerapkan UX dengan sangat efektif telah meningkatkan pendapatan mereka sebesar 37%.
  • 10 pemimpin UX terbaik di Amerika telah mengungguli penjualan mereka dengan pengembalian hampir tiga kali lipat pada tahun 2017.
  • 61% pengguna pindah ke situs lain jika mereka tidak dapat menemukan apa yang mereka cari secara cepat.
  • 90% fokus pada peningkatan brand dan UX dapat mengubah investasi 2 dollar Anda menjadi pengembalian pendapatan sebesar 100 dollar.
  • 67% pelanggan lebih cenderung membeli dari situs yang mobile-friendly.
  • Pengguna seluler 5x kali lebih mungkin meninggalkan transaksi jika situs tersebut tidak user-friendly.

Semoga strategi UX yang telah disebutkan di atas dapat membantu bukan hanya untuk desainer tetapi juga pengusaha dan Anda yang ingin tahu lebih banyak tentang masalah desain yang mempengaruhi profitabilitas bisnis.

Reference

Desai, Rashi. 2019. Is your UX correct for the business?. [Online] Available at :https://medium.com/swlh/is-your-ux-correct-for-the-business-33665dfd59b3 [Accessed January 25, 2019]

Kosyu, Dior Asning. 2015. Perbedaan Mendasar Marketing B2B dengan B2C. [Online] Available at :https://blog.penulis.id/id/perbedaan-mendasar-marketing-b2b-dengan-b2c/ [Accessed January 28, 2019]

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

One thought on “Desain UX untuk Bisnis Anda yang Lebih Baik”